Ingatan pertama hidup saya dimulai sekitar 22 tahun lalu, nun jauh di pulau seberang. Pulau Lombok nan eksotis! Gunung Rinjani yang kukuh, Pantai Senggigi yang breath-taking, Plecing kangkung yang lezaaaat.

Saya merasa amat beruntung dapat menghabiskan tahun-tahun pertama masa kecil saya di pedalaman Desa Bayan, Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Ayah, Ibu dan adik laki-laki saya, Muhammad Tanri. Saat itu Ayah sedang bertugas sebagai dokter PTT di Puskesmas Bayan, membawa serta kami sekeluarga tinggal disana selama 3 tahun (1992-1995). Adik perempuan saya lahir disana, sehingga diberi nama Mufida Banni; Banni itu singkatan dari Bayan Rinjani. :)

Desa Bayan ini desa miskin. Hampir seluruh rumah penduduk belum terkena fasilitas listrik dan masih beralaskan tanah. Listrik dan televisi hanya ada di dua rumah, rumah dinas kami (beruntungnya) dan rumah kepala desa. Tidak heran, hampir setiap malam rumah kami penuh dengan penduduk yang ingin ikut melihat televisi. :)

Tahun 1992 saya mulai masuk TK. Namanya TK Dewi Anjani. TK ini sungguh-sungguh TK yang sederhana, seperti laiknya sekolah-sekolah di pedalaman. Hanya ada satu ruangan untuk belajar, dengan kursi-kursi kecil yang sudah lapuk dan pudar warnanya. Tidak ada ayunan atau perosotan, kami hanya punya piring-piringan logam yang sudah berkarat dimakan usia. Tapi sejujur-jujurnya, bukan kurang fasilitas itu yang membuat saya setahun kemudian merengek-rengek minta dimasukkan SD, menyelesaikan TK kecil tanpa niatan melalui dulu TK besar.

Saya cuma bosan. :)) Sebab pelajaran TK lama-lama terasa begitu lambat dan membosankan, dan saya perlu tantangan baru segera! Saya sudah bisa membaca sejak sebelum usia 4 dan saya tidak tahan lagi harus bersama-sama mengeja di kelas. Tapi meskipun itu sekolah dasar negeri di pedalaman, kepala sekolah tidak serta-merta mengizinkan. Matanya memicing. “Kamu masih kecil.”

Tentu saja saya tidak mau kalah, “Tapi saya bisa.”

Kepala sekolah memandangi tanpa ekspresi. “Baru lima tahun. Peraturannya masuk SD umur 7 tahun. TK dulu saja minimal satu tahun lagi, ya.”

Saya menggeleng. “Nggak mau. Saya bisa kok.”

Ayah dan Ibu tahu kalau saya sudah punya keinginan, nggak akan ada yang bisa meluluhkan niat saya, kecuali saya sendiri.

“Saya mau masuk SD.”

Kepala Sekolah menatap orangtua saya, lalu menghela napas. “Kalau begitu, masa percobaan saja dulu, ya, Dok. Satu caturwulan. Kalau bisa, lanjutkan. Kalau tidak bisa, terpaksa kembali ke TK.”

Tidak gentar. Saya yakin insyaallah saya bisa. Ini keinginan saya kok.

Semangat saya saya buktikan. Sejak usia lima tahun, saya berjuang buktikan pada Pak Kepala Sekolah dan orangtua saya, saya nggak akan labil dalam tekad. SD saya letaknya jauh, harus naik turun bukit untuk sampai kesana. Saya nggak mengeluh. Saya beranikan diri untuk berjalan kaki sendiri ke sekolah, melewati peternakan sapi dan kerbau, mendaki lalu turun lagi. Begitu terus setiap hari. Setiap pagi sejak subuh saya sudah siap-siap ke sekolah, siap berangkat sebelum akhirnya ditahan Ayah atau Ibu karena hari masih terlalu pagi. Hehe, semangat yang berlebihan kadang-kadang. Tapi hasilnya tidak mengecewakan.

Saya diizinkan melanjutkan SD caturwulan berikutnya, dan dengan bonus, selalu peringkat pertama di kelas. :)

Selama tinggal disana, Ayah ditugaskan sebagai kepala Puskesmas, dan saat malam hari membuka pula praktik mandiri di rumah. Puskesmas tepat berada di seberang rumah dinas kami, bersebelahan dengan kuburan yang kerap dialihfungsi menjadi lapangan sepakbola. *kacau memang :)) Jika sudah menyelesaikan pekerjaan rumah atau bukan saatnya bermain dengan teman-teman, saya suka sekali ikut Ayah praktik. Sekadar memperhatikan saja bagaimana Ayah menangani pasien. Hal ini rupanya sudah Ayah biasakan sejak saya berusia dua tahun.

Tak dapat disangkal, bagian favorit saya adalah saat pasien bertanya di akhir pemeriksaan dan pengobatan, “Berapa, dok?”

Ayah akan tersenyum, “Berapa saja, Pak,” karena mafhum akan kondisi kemiskinan setempat. Kalau tidak, untuk apa Ayah jauh-jauh meninggalkan Pulau Jawa untuk bekerja melayani disini?

Pasien akan menarik napas lega dan membayar semampunya (seringnya bahkan tidak membayar). Lalu mengucapkan terima kasih sambil membungkuk dalam. Ah, saya suka sekali scene ini. Tidak cukup sampai disana, di masa panen nanti, rumah kami akan mendadak dipenuhi hasil panen. Ayah tidak selalu dibayar dengan uang, tidak jarang pula dengan pisang atau pepaya. Saya kecil sungguh suka hal ini.

“Asik ya jadi dokter,” pikir saya, “Dapet banyak pisang dan pepaya.” Dan sejak saat itu, masa depan mulai terbentuk dalam pikiran saya.

Desa Bayan meski miskin dan tradisional, namun indah luar biasa. Penuh dengan perbukitan dan hewan ternak disana-sini, tinggal berjalan kaki sedikit ke barat, sudah mencapai pantai. Ini tempat kesukaan saya setiap hari. Setelah sekolah, saya akan berlari ke Pantai dan menghabiskan waktu disana hingga petang. Kadang sendiri, sering dengan teman-teman. Sekadar memandangi pantai, nelayan yang sibuk atau berlarian di pematang sawah tak jauh dari pantai dan berbasah-basahan di kucuran air di pojok sawah. Bahagia. Kulit saya makin hitam, badan saya kurus karena kebanyakan main dan berlari. Gigi saya ompong karena terjun bebas dari meja makan saat berusia dua tahun, tapi tidak pernah ragu tertawa lebar kapanpun. Karena saya bahagia. :)

Tiga tahun ini, menyisakan begitu banyak hal dalam kehidupan saya di kemudian hari. Saya cinta masyarakat tradisional karena hidup di tengah mereka dan menjadi bagian mereka sejak belum mengerti apa-apa. Saya bukan anak kota, saya anak kampung. Kata Ibu saat kecil, saya dan Tanri bisa berbicara bahasa Sasak dan saya selalu sangat gembira tiap ada festival di sekolah. Teman-teman akan pakai baju berbagai profesi, tapi saya selalu memilih untuk memakai baju adat Sasak.

Saya menemukan impian masa depan saya untuk jadi dokter pelayan masyarakat di desa ini, bukan di tengah kota Bandung. Maka betapa sesak hati saya saat membaca puluhan tahun kemudian, bahwa hingga saat ini Usia Harapan Hidup (UHH) di Nusa Tenggara Barat masih merupakan salah satu yang terendah di Indonesia. :(  Betapa sedihnya.

Yah, meskipun mungkin saya tidak akan kembali lagi kesana (setelah menikah banyak yang perlu disesuaikan :)), tapi mudah-mudahan semangat kecil yang berawal dari sana bisa saya bawa terus sampai tua. Saya mau jadi dokter yang baik, supaya bisa melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Amiin