Bagian selanjutnya yang sangat berpengaruh dalam kehidupan saya ini juga merupakan momen krusial dalam dinamika kenegaraan kita. Reformasi 1998. Saat itu saya baru saja naik kelas 6, di sebuah SD negeri di kota Serang, Banten. Sejujurnya, saya nggak mengerti apapun saat itu. Saya tahu Indonesia punya Presiden yang sudah berkuasa sedemikian lama, dan saya tahu pula tiap 5 tahun Ayah dan Ibu ikut memilih pada Pemungutan Suara tanpa pernah ada perubahan berarti.

Saya tahu pertanyaan, “Siapa presiden yang terpilih, Bu? Yah?” adalah pertanyaan percuma, sebab bahkan sebelum Pemilu diadakan, kami semua sudah tahu jawabannya.

“Seolah-olah kita nggak punya lagi orang lain yang bagus, ya,” Ayah dan Ibu mengangkat bahu. Saya tahu ini aneh, tapi sampai saat itu saya nggak begitu merasa ada masalah. Toh kondisi aman damai saja.

Situasi berubah ketika tiba-tiba saja layar televisi setiap hari dipenuhi lautan massa. Di Jakarta, kata Ayah, Gedung MPR/DPR. Ada apa? Kenapa banyak orang memenuhi jalan? Kenapa sampai banyak yang naik ke atap-atap gedung? Pakai ikat kepala, mengibarkan bendera? Siapa kakak-kakak dengan jaket warna-warni itu?

“Demonstrasi,” kata Ayah, menjelaskan dengan sabar, pelan-pelan. Rupanya Indonesia sedang berubah, dengan cepat. Mereka semua itu mahasiswa, yang kuliah di universitas, dan memenuhi jalan untuk menuntut perubahan Pemerintahan. Sebab krisis keuangan yang parah sedang terjadi, Presiden Soeharto sudah terlalu lama berkuasa, dan sekarang baru ketahuan betapa kondisi negara kita sedemikian bobroknya. Ternyata keluarga Cendana penguasa itu maling-maling negara yang jahat. Korup. Korupsi, kolusi, nepotisme, tiba-tiba saja tiga istilah tadi menjadi sedemikian akrabnya di telinga. Ternyata selama ini partai Golkar berlaku curang, sehingga bisa menang terus.

Rakyat sudah muak, hampir muntah, dan karena selama ini tidak ada juga inisiatif dari pemimpin-pemimpin yang sering nampang di layar kaca, akhirnya kakak-kakak mahasiswa yang pemberani menguatkan hati untuk turun ke jalan. Tidak tahan lagi melihat penderitaan masyarakat. Meski nyawa taruhannya, seperti kak Elang Mulia Lesmana dari Universitas Trisakti dan kakak-kakak lainnya. Waktu itu saya masih pakai seragam putih merah dan yang bisa saya lakukan hanya memandangi televisi, sambil menghujani Ayah dengan pertanyaan-pertanyaan.

Ah tapi, pikiran saya tidak berhenti disana. Sebab saya kagum sekali melihat kakak-kakak gagah berani itu, kakak-kakak yang perasaannya peka terhadap penderitaan rakyat dan menyayangi mereka melebihi diri mereka sendiri. Saat itu juga saya berjanji dalam hati, kalau saya dewasa dan jadi mahasiswa nanti, pokoknya saya juga ingin jadi mahasiswa yang selalu menyayangi masyarakat dan melayani mereka. Tidak mendahulukan diri sendiri dan penuh keberanian.

Sekarang masa mahasiswa (S-1) sudah berlalu. Apa saya sudah berhasil memenuhi janji saya? Perjalanan sungguh masih panjang. Begitu banyak yang masih perlu dipelajari, masih perlu dibenahi. Semoga janji saya dalam hati sewaktu duduk di bangku kelas 6 SD bisa saya ingat terus sampai mati. Amiin