Pertama kali saya tahu ada program pertukaran pelajar untuk SMA dari sebuah cerpen di majalah Kawanku, waktu saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP (kalau nggak salah). Itu pun hanya sekilas membaca dan nggak pernah terpikirkan lagi. Cuma bersitan pikiran, “Wah, seru ya kayaknya kalau bisa mencoba menjalani kehidupan lain di luar negeri…” Nah, saat kelas 1 SMA, awal semester 2, secara nggak sengaja, saya lihat lagi sebuah poster yang ditempel Yayasan Bina Antarbudaya Bandung. Akan diadakan seleksi untuk program pertukaran pelajar ke luar negeri, dan dapat diikuti oleh siswa kelas 1 SMA. Wah, kesempatan.

Publikasi program ini di sekolah saya rupanya cukup booming saat itu, dan banyak teman-teman seangkatan yang juga mendaftar. Kami saling menyemangati untuk ikut di tengah kesibukan akademis dan Latihan Kepemimpinan Siswa yang luar biasa hectic. Melihat komposisi teman-teman yang mendaftar, melihat gimana gemerlapnya talenta mereka, saya nggak punya ekspektasi tinggi-tinggi. Saya hanya berpikir bahwa program ini menarik banget dan merasa kalau saya nggak mendaftar dan ikut seleksi, pasti saya bakal menyesal banget karena penasaran. Akhirnya saya mendaftar di menit-menit terakhir dan mengikuti seleksi.

Ada tiga seleksi dengan sistem gugur di tiap tahapnya yang diadakan AFS-Yayasan Bina Antarbudaya chapter Bandung. Tahap pertama, diadakan di SMAN 3 Bandung, sekolah saya, terdiri atas tes tertulis pengetahuan umum, grammar bahasa Inggris, dan menulis esai dengan tema pilihan. Saat itu, kalau saya nggak salah, ada lebih dari 80 peserta seleksi, dan akan diambil setengahnya (again, CMIIW) untuk seleksi tahap 2. Soal-soal pengetahuan umumnya bener-bener seru, mulai tentang MTV sampai perdana menteri Selandia Baru jadi bagian pertanyaan; soal-soal bahasa Inggris-nya juga cukup menantang, saya percaya diri aja karena rasanya meskipun belum fluent, bahasa Inggris saya nggak jelek-jelek amat hehehe; dan menulis adalah hobi saya. Jadi terlepas dari hasilnya gimana, I had fun.

Ternyata, saya lulus ke tahap 2, bersama dengan banyak teman-teman yang lain, as predicted. Mengambil lokasi di SMP 7 Bandung, Jalan Ambon, tahap 2 terdiri atas tes lisan: wawancara dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Ada bermacam-macam pertanyaan yang diajukan pewawancara, mulai dari pertanyaan-pertanyaan untuk menggali karakter dan kepribadian, motivasi mengikuti program sampai pilihan negara yang diminati beserta alasannya. Saya jawab tanpa ragu: Inggris dan Jepang! Hehehe. Entah kenapa saya nggak kepikiran untuk memilih Amerika Serikat, negara favorit peserta AFS sepanjang masa. Hehe. Sayangnya sejak beberapa tahun sebelumnya Inggris udah nggak lagi jadi salah satu pilihan negara AFS, entah karena alasan apa. So, aim saya jadi jelas deh: Jepang!🙂

Kenapa Jepang?

Ada beberapa alasan. Alasan terdangkal (=p) adalah karena sejak kecil saya suka banget sepakbola, dan saat itu saya lagi asyik banget ngurus tim sepakbola kelas dan sekolah, juga ngabisin komik-komik sepakbola Jepang dan saya jadi penasaran banget gimana keberlangsungan sebenernya disana. (Hahaha, pada kenyataannya, akhirnya tujuan ini nggak bener-bener tercapai karena saya masuk sekolah khusus perempuan dan mereka nggak punya unit sepakbola). Alasan lain, ya tentu karena rasa penasaran yang nggak pernah tuntas, gimana negara mungil di sisi timur Asia itu bisa menjelma jadi raksasa ekonomi dunia dalam tempo yang nggak lama setelah porak-poranda karena bom Hiroshima dan Nagasaki. Saya juga pengen tahu gimana mereka bisa memadukan kekuatan kultur dan tradisionalisme ribuan tahun dengan kemajuan teknologi masa kini. Padanan apik yang mungkin nggak ada duanya di belahan lain bumi.🙂 Saya yang masih banyak nggak benernya ini pengen belajar lebih berdisiplin, lebih total dan bersungguh-sungguh, lebih santun beretika, lebih baik hati. Semoga sedikit-sedikit benar-benar terealisasi ya, amiin.

Alhamdulillah, saya lulus lagi seleksi tahap 2. Saatnya mempersiapkan diri menyambut tahap 3. Dijelaskan panitia, tahap ketiga akan terdiri dari simulasi diskusi panel dan talent show. Kwek kwek kwek. Hahaha. Saya nggak punya bayangan diskusi panel akan jadi kayak gimana dan totally clueless tentang talenta yang bisa saya pertunjukkan. Bakat saya apa ya? Hahaha. Main alat music nggak bisa (kecuali recorder jaman SD :p), nari nggak mungkin (nggak mau dan mana bisa pula baru mulai latihan beberapa minggu sebelum hari seleksi? Belakangan waktu mempersiapkan performance seni untuk jadi delegasi ke Gunma University 2009 saya baru tahu kalau ini mungkin :p), sedangkan nyanyi? Hahaha, kalau untuk ngusir tikus sih saya berani unjuk gigi. :D  Saya mulai rusuh. Tinggal beberapa teman satu sekolah yang tersisa di tahap ini dan mereka kayaknya adem tentram aja menyambut seleksi tahap 3. Saya mulai cari-cari informasi. Mereka mau perform apa?

Jawaban yang saya terima bermacam-macam: Tari Merak, tari Jaipong, main gitar, main biola, berakting, pencak silat, dan lain-lain. Saya bengong aja. Wuah, keren-keren beneeer. Dan saya masih clueless, nggak ada kemajuan ide tentang talenta apapun yang bisa saya pertunjukkan. Kondisi ini bertahan sampai beberapa hari sebelum seleksi, dan pada akhirnya membuat saya berpikir-pikir, apa mungkin jalan saya cuma sampai sini, yaa. Soalnya mentok, bener-bener nggak ada bayangan. Kakek yang sejak awal seleksi terus menyemangati dan bilang yakin saya bisa setidaknya sampai tahap nasional masih terus menyemangati. Engki tahu Teteh bisa. Saya nyengir aja tapi dalam hati menggeleng-geleng, nggak, saya tahu kok saya nggak bisa.

Saya mulai pasrah tapi kemudian, dua hari sebelum seleksi, saya tiba-tiba berpikir ulang. Aah, kalau saya nggak mencoba saya nggak akan pernah tahu saya bisa atau nggak. Seperti lagu Fix You-nya Coldplay, “…but if you never try you’ll never know, just what you’re worth!” Lagian yang pengen pergi ke Jepang kan saya, yang pengen merasakan gimana rasanya menjalani kehidupan lain di luar negeri kan saya, jadi jelas kalau saya harus berusaha! Pantang menyerah sampai garis finish! Hehehe.

Mulailah saya berpikir keras. Apa bakat saya? Dulu sih orang bilang, nulis. Tapi bakat nulis gimana menunjukkannya? Belakangan baru saya tahu dari pengalaman Pak Ahmad Fuady di buku Ranah 3 Warna bagaimana melakukannya. Oke, ganti pertanyaan: saya suka ngapain? Baca, nulis, dan…bicara. Hahaha. Dari jaman SD dulu saya selalu suka ngeliat kakak-kakak mahasiswa orasi saat demonstrasi dekat gedung MPR, jadi…kenapa…saya nggak orasi aja untuk talent show besok? Hehehe, serius! Dan jadi! Saya menemukan sebuah artikel yang bener-bener inspiring dan sesuai dengan kondisi saya di sebuah majalah CosmoGirl! yang saya pinjem di sebuah perpustakaan di deket Jalan Citarum.Tentang kepercayaan diri. Gimana, kemanapun kita menoleh, kapanpun, pasti adaaaa aja orang yang keliatan lebih daripada kita. Lebih cemerlang, lebih brilian, lebih pintar, lebih berprestasi, lebih cantik, lebih keren, lebih supel. Lebih segalanya! Dan itu membuat kita selalu tergoda dan terlarut untuk ngerasa minder pada akhirnya. Ngerasa kurang, feel inadequate. Tanpa kita sadari sebenernya cahaya itu ada di dalam, menunggu untuk dinyalakan, etc etc. Hehehe, udah nggak inget persis gimana kontennya, tapi intinya gitu semangatnya. Woke! Siaplah saya.

Hari seleksi datang juga. Bertempat di Japanese Language and Culture Center (JLCC) Jalan Sabang, seleksi diawali dengan diskusi panel pagi harinya dan talent show siang harinya. Saya udah lupa nih topik diskusi panelnya, tapi tentang mekanismenya, begini: kami dibagi beberapa kelompok dan tiap individu dalam kelompok kemudian diberi peran masing-masing, sebagai panelis dengan latar belakang berbeda-beda—itulah kenapa dinamakan diskusi panel. Saya ingat kesan saya setelah diskusi: saya nggak banyak bicara, saya nggak mendominasi diskusi, dan saya berusaha untuk focus pada goal diskusi, instead. Tahun-tahun setelahnya, kalau saya renungkan ulang, kayaknya hal itu yang justru membuat saya lulus seleksi. ;)  Hal ini saya terapkan juga saat mengikuti focus group discussion pada tahap final Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Nasional 2010. Dan, Alhamdulillah berhasil juga.🙂

Talent show siangnya! As predicted, penampilan teman-teman yang lain sangat mengesankan. Hehehe. Mau nggak mau, tiba juga saatnya saya maju. Melihat saya maju ke depan tanpa bawa apapun, minus alat music atau kostum tari atau pencak silat, dan nggak ada tanda-tanda ngatur nafas untuk tarik suara, kakak-kakak juri penasaran nanya, “Kamu mau ngapain, De?” Hehehe. Saya nyengir. “Saya…mau bicara, Kak!” Dan bicaralah saya! Orasi? Yah, dengan semangat berapi-api saat itu, meski tanpa speaker, bisalah disebut begitu. Hehe. Kakak-kakak juri itu speechless, bengong di awal, lalu lama-lama mulai larut dalam pembicaraan saya, ikut tertawa, dan bertepuk tangan di akhir. Hahaha. Bahkan kalau saya nggak halusinasi lihat, ada yang sampai berkaca-kaca.  Mungkin, mereka bengong karena nggak menyangka bakal menemukan anak kecil aneh senekad itu, larut karena penasaran apa yang bakal dibicarakan, tertawa dan berkaca-kaca karena terharu akan kenekadan perjuangan saya, dan bertepuk tangan untuk seenggaknya menghargai perjuangan saya. Hehehe. Gapapalah, sampai sana saya udah ngerasa puas banget, karena udah berusaha dan melakukan apa yang saya bisa lakukan, terus maju dan nggak mundur. Aduh puas batinnya nggak terkira. Seleksi tahap 3 yang juga seleksi akhir tingkat chapter berakhir, kami dikabari akan diberi kabar lewat surat untuk pengumuman kelulusan karena selanjutnya seleksi akan berlanjut ke tingkat nasional, seleksi dokumen dan lain-lain. Kami diberitahu untuk berdoa tapi jangan terlalu nunggu pengumuman, khawatir kecewa nantinya. Nothing to lose. Siplah, saya kembali asyik dengan kesibukan akademis, persiapan MOS dan suksesi organisasi di sekolah.

Ternyata, hidup itu…bener-bener nggak bisa disangka-sangka. Suatu siang saat sedang bermalas-malasan sambil nonton film The Parents Trap, telefon di rumah Kakek berdering. Ibu. Mengabari kalau Ibu baru aja dapat surat dari AFS-Yayasan Bina Antarbudaya Pusat di Jakarta. Saya lulus, sampai tingkat nasional. Dan tahapan selanjutnya tinggal memilih negara tujuan—ada 9 negara pilihan dan saya diminta membuat prioritas negara yang paling diinginkan hingga yang paling nggak diminati—lalu seleksi di negara-negara tersebut seiring dengan seleksi pembiayaan—beberapa sumber pendanaan akan memilih sendiri kandidat yang mau mereka biayai—dan pengurusan berbagai hal di negara tujuan: keluarga angkat, sekolah, dan lain-lain. Subhanallah. Saya, seperti kakak-kakak juri saat talent show beberapa bulan sebelumnya, speechless. Geleng-geleng kepala nggak percaya, itu kakak-kakak mikir apa sih sampai meluluskan saya? Hehehe. Alhamdulillah. Emang kalau rezeki nggak bakal kemana.

Alhamdulillah selanjutnya perjalanan lebih mudah. Saya dapat negara pilihan pertama saya, Jepang; cepat dapat sponsor—ASEAN, yang berbaik hati ngasih saya allowance pula tiap tiga bulan juga ngasih bonus trip ke Osaka dan Kyoto untuk tinggal bareng keluarga angkat dan nyoba sekolah disana, juga ngasih saya hadiah kamus Kanji; cepat dapat keluarga angkat—keluarga Kasahara yang ramai dan seru dengan Papa yang pintar, senang berbagi, dan jago memasak, Mama yang cantik, mandiri dan ahli merangkai bunga (guru Ikebana), dan tiga kakak perempuan yang baik. Saya juga segera mendapatkan host school, Niigata Seishin Girls High School. Sekolah swasta khusus perempuan! Wuah. Seumur-umur saya selalu sekolah di sekolah negeri dan sejak lama selalu ingin merasakan gimana rasanya sekolah di sekolah swasta, dengan teman perempuan semua. Pasti menyenangkan!🙂

Dari Bandung ada empat orang yang akhirnya dikirim selain saya, Rima dari SMAN 5 Bandung untuk program sebulan ke Jepang, Vivin (teman sekelas saya di SMAN 3) dan Hayu dari SMAN 5 ke Amerika Serikat, dan Ratih (SMAN 3) ke Australia. Rima berangkat bulan Desember 2003, saya bulan Maret tahun 2004 (tanggal 17 Maret! Kalau ini saya ingat betul), sedangkan teman-teman lain berangkat bulan Agustus tahun yang sama. Saya berangkat di tengah tahun ajaran, meninggalkan kehidupan akademis yang seru di kelas 2-6 (dan Aki, Mpus, Kuskus, Ngadi anggota geng Bodoh lain—jangan Tanya kenapa namanya itu), dan kehidupan organisasi yang juga lagi asik-asiknya—saya mundur dari Belitung Muda beberapa bulan sebelumnya dan terpaksa pula meninggalkan masa kepengurusan MPK bareng Hilman dan Imam (ini yang paling bikin nggak enak!).

Ibu masih berpikir sangsi, apa iya anak ini bakal bisa bertahan sendirian di negeri asing selama setahun. Ayah khawatir karena merasa saya masih terlalu kecil, lima belas tahun dan ini pertama kalinya saya keluar negeri. Nenek geleng-geleng kepala nggak mengizinkan tapi tahu nggak bisa berbuat apa-apa. Sementara Kakek tersenyum bangga dan menepuk-nepuk saya. Aaaaah Kakeeeeek, itulah saat saya terakhir bertemu Kakek di dunia, karena November tahun yang sama, Kakek meninggal karena kanker paru-paru. Hikshikshikshiks. T______T

Ayah menangis memeluk saya di bandara. Membekali saya begitu banyak buku dan berpesan agar saya rajin baca Qur’an, itu yang akan menjaga saya baik-baik, pesan Ayah. Saya manggut-manggut, sudah nggak terlalu connect dengan kondisi sekitar karena benak saya udah dipenuhi antusiasme tentang apa yang bakal saya temui di negeri nun jauh itu. Hehe, maaf Ayah.

Dan berangkatlah saya akhirnya! Menekan tombol pause di kehidupan saya untuk merasakan kehidupan lainnya.🙂