Waktu pertama kali saya memutuskan untuk memilih Jepang sebagai prioritas pertama host country untuk masa exchange saya, sebetulnya saya belum tahu begitu banyak tentang negara ini. Saya pilih Jepang tanpa bayangan kota spesifik yang ingin saya tuju. Hm, tiap kota apa bedanya, sih? Ya, tentu saya tahu Tokyo. Ibukota negara yang—waktu itu, kabarnya—amat padat, penduduknya jalan buru-buru…ditambah sedikit gambaran dari dorama Tokyo Love Story yang saya tonton waktu kecil.

Makanya ketika saya terima surat keterangan yang menyertakan gambaran singkat keluarga angkat dan daerah yang akan menerima saya selama setahun, yang ada hanya antusiasme. Jadi, saya akan tinggal selama setahun di Niigata-shi, Niigata-ken. Mm, prefektur Niigata. Dimana itu? Pulau Honshu, sama dengan Tokyo, hanya berjarak 300 km ke sebelah Barat Laut. Saya mengingat-ingat. Niigata: pernah dengar tidak, ya? Rasanya pernah sekali, waktu stadion Big Swan, Niigata jadi tempat berlangsungnya pertandingan antara Irlandia dan Spanyol saat Piala Dunia 2002. Tapi ya masih blank juga. Apalagi karena kesibukan di sekolah yang seolah ga ada habis-habisnya padahal sudah dekat waktu keberangkatan (Januari-Maret 2004), saya juga ga sempat surfing di internet dan cari info lebih lanjut—hanya sempat mengirim kartu pos satu kali pada keluarga angkat saya, keluarga Kasahara.

Pertama kali tiba di Niigata tanggal 27 Maret 2004, saat itu sedang musim semi. Udara masih sangat dingin, terutama untuk saya yang datang dari negara yang hangat sepanjang tahun seperti Indonesia. Saya sering menggigil, pakai jaket tebal, kaos kaki, sarung tangan, sampai ditertawakan teman-teman dan keluarga saya di sana. ”Konna no wa mou atatakain da yo!” (Yang kayak gini sih udah hangat, lho!) Hehehe. Saya ketawa-ketawa aja, hitung-hitung adaptasi juga dengan udara dingin. Meski ada yang jadi meragukan apa saya bakal bertahan hidup saat musim dingin yang suhunya mencapai minus derajat—halo, musim semi ’cuma’ 15°C, lho!—tapi saya optimis kalau lama-lama badan saya juga bakalan kebal sama cuaca dingin. Hahaha, I wished.

Saat musim semi, Niigata menjadi istimewa karena sakura bermekaran dimana-mana. Saya sempat pergi sekeluarga untuk melihat sakura malam hari ke Takada Kouen di Joetsu. Bunga sakura yang pink memesona, saat malam hari disinari pencahayaan yang mengagumkan. Subhanallah, keren banget deh! Paginya, biasanya banyak keluarga yang piknik di bawah sakura. Menggelar alas lalu makan sekeluarga. Sakura hanami.

Sekolah-sekolah dimulai akhir April. Di hari pertama saya sekolah, setiap kelas dipotret untuk foto kelas di depan pohon sakura yang bermekaran di depan sekolah. Udara memang masih dingin, tapi beranjak April, matahari mulai bersinar, menghangat. Saking hangatnya, saya ga bisa berhenti tersenyum. Rasanya semua positif! Pokoknya mood saya bagus banget sepanjang hari.

Musim panas, kehangatan itu mulai menggila. 40°C. Orang-orang malas ke luar, lebih baik tetap di dalam rumah yang dingin ber-AC. Kalaupun terpaksa ke luar rumah tentulah dengan pakaian yang super-minimalis—kecuali saya tentunya, saya kan berjilbab. 

Tapi di tengah hal-hal seperti itu, banyak hal lain yang mengagumkan tentang musim panas. Bagaimana mendeskripsikannya? Biru yang sangat biru dan hijau yang amat hijau! Terutama Niigata, yang dikenal sebagai ibukota air karena banyaknya sungai yang mengalir di dalamnya, termasuk sungai terpanjang di Jepang, Shinanogawa. Juga pantai yang mengelilinginya, karena Niigata terletak di pinggir Barat Laut pulau Honshu. Pada musim panas ini pantai sangat ramai. Saya sendiri sepulang sekolah selalu berlari ke pantai bersama kawan satu sekolah saya yang berasal dari Wisconsin, Amerika Serikat. Sekolah saya terletak di dekat pantai.

Juga di musim panas, banyak diselenggarakan festival-festival (omatsuri). Saya sempat hadir selama dua hari omatsuri yang diadakan di kota Nagaoka, kota sebelah Niigata yang juga berada di prefektur Niigata. Dalam omatsuri biasanya ada kembang api (hanabi). Inilah yang patut dibanggakan dari Nagaoka. Hanabi disini adalah yang terbesar di Jepang. Tak heran sepanjang jalan sangat ramai, karena orang-orang se-Jepang banyak berdatangan ke kota kecil ini. Kami menggelar tikar di pinggir-pinggir sungai, mengenakan yukata atau kimono musim panas—lebih tipis, lebih murah –bercengkrama dengan keluarga, dan menyaksikan hanabi yang spektakuler. Sangat menghangatkan hati!

Musim gugur ialah musim kesukaan saya. Kecantikannya begitu memesona. Perpaduan warna-warna bertebaran sepanjang penglihatan: merah, oranye, kuning, hijau, coklat di pepohonan. Aki no kouyou (autumn leaves). Hal ini tidak bisa ditemukan di seluruh bagian Jepang, hanya di tempat-tempat tertentu, termasuk Niigata. Udara sangat segar. Orang-orang masih berselimutkan keceriaan musim panas dan kemuraman musim dingin belum lagi datang… di musim inilah, saya sering terpaku, merenung. Keindahan alam-Nya teramat mengingatkan saya akan keMahabesaran-Nya, akan keberadaan-Nya dimanapun. Kalau ciptaanNya saja sebagus ini, maka tak terbayangkan betapa Maha Indahnya Dirinya!! Haiku-haiku—puisi singkat berlarik khas Jepang, biasanya bertemakan alam—banyak saya hasilkan di musim ini.

Musim dingin suramkah? Mm, sebagai manusia tropis, saya malah antusias! :) Harap maklum, di Indonesia saya kan tidak pernah menemui salju—paling banter lihat di TV. Salju memang kadang merepotkan; kereta jadi tidak sesuai jadwal karena banyak yang terhambat salju yang mengumpul di rel, berkendara di jalan harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir, atap rumah harus secara rutin dibersihkan dari salju karena kalau tidak, salju yang ternyata amat berat ini bisa meruntuhkannya. Belum lagi saat salju turun lebat, jalanan penuh diselimuti salju yang bahkan bisa mencapai lutut saya. Saya harus mengenakan sepatu bot dan berjalan dengan susah payah. Dengan dibalut seragam sekolah musim dingin yang bersweater dan berjas luar, kemudian juga jas musim dingin yang panjang, syal, dan sarung tangan. Memang merepotkan, tapi berjalan di luar sendirian di tengah kesunyian—karena orang-orang malas keluar—amat mengasyikkan pula. Saya banyak berintrospeksi sepanjang jalan. The unforgettable silence, keheningan yang nggak akan pernah terlupakan.

Saat suhu menukik turun mencapai minus, saya lebih suka tinggal di dalam rumah. Lantai di rumah diperlengkapi pemanas, hangat… Saat turun salju saya senang duduk di depan jendela, memperhatikan bulir-bulir putih lembut turun, membasahi jalan yang akhirnya murni putih semua. Saya suka keheningan saat salju turun, rasanya damai. Saat membayangkan betapa dinginnya di luar, saya bersyukur ada di dalam dan bisa menghangatkan tubuh dengan susu coklat hangat.. 

Di akhir Desember, diadakan ski trip untuk siswa pertukaran dari seluruh dunia di Joetsu city. Di tempat ini salju turun dengan lebih lebat sehingga bisa digunakan untuk ski. Menakjubkan rasanya, waktu pertama kali mencoba. Sulit, sulit. Tubuh saya rasanya sulit diseimbangkan, jadi saya terus terjatuh. Tapi lama-lama mencoba, akhirnya bisa meluncur juga. Meski harus hati-hati agar tidak menabrak anak-anak yang sedang bermain disana juga—saya belum bisa mengerem dengan pandai!

Timbunan salju nampak sangat empuk—hehe—untuk ditiduri. Saya dan teman-teman senang berteriak-teriak lalu terjun bebas ke salju yang menggumpal tebal dimana-mana. Dingin! Muka kami sampai merah dan saat berbicara keluar uap. Kelihatan lucu.

Selama di Jepang, saya berkesempatan untuk mengunjungi pula Tokyo, Chiba, Kyoto, Osaka dan Fukuoka. Semua dengan keistimewaan masing-masing. Tokyo dengan keramaiannya, Chiba yang ber-Disneyland. Kyoto yang ancient. Osaka dengan ciri pedagangnya yang sangat ramah. Fukuoka yang begitu berkesan dengan gedung-gedung perkantoran yang terletak tepat di depan pantai-pantai… begitu indah!

Tapi, Niigata tak pernah tergantikan. Like they always say, nothing’s like home! And here’s my second home!!!🙂