Selama setahun sebelumnya sejak masuk SMA 3, aku beralih menjadi anak SMA yang begitu sibuk. Waktuku sebagian besar di sekolah. Sebagai anak MPK, ngawasin kerja OSIS; sebagai anggota ekskul, latihan-latihan dan pertemuan; sebagai pelajar, memenuhi tugas-tugas. Pergi pagi-pagi pulang malam. Dibanding SMP, aku lebih jarang belajar. Ke kelas pun kerap nggak hadir karena dispensasi urusan organisasi. Aku sibuk, aku capek. Setiap hari adalah rutinitas. Dan aku punya waktu lebih sedikit untuk berpikir.

 Secercah cahaya datang!! Inspirasi untuk ikut seleksi pertukaran pelajar, yang akhirnya di-ACC Allah swt sehingga tahun depannya aku benar-benar berangkat sebagai siswa pertukaran ke negeri-yang-sama-sekali-asing, Jepang. Negeri dimana penganut Islamnya sangat sedikit. Negeri yang agak materialis dan tidak begitu religius…Tapi aku jatuh cinta padanya dan memutuskan untuk menjalani kehidupan baru dengan segala tantangannya di sana—sendirian, selama setahun, di usia yang baru 15 tahun lebih.

 Menakjubkan! Melebihi segala antusiasme akan perjalanan ke luar negeri untuk pertama kalinya,melebihi kelegaan nggak perlu belajar fisika untuk sementara—aku terpukau karena selama perjalanan ini aku merasa hidupku seperti di’pause’ untuk sementara. Tepatnya, hidupku di Indonesia. Rasanya seperti aku ditarik keluar dari satu arus dan aku bisa memandangi arus tadi dari pinggir sungai. Mengamatinya, menganalisis segala komponennya. Aku melihat hidupku secara lebih objektif, dari luar. Tersadarkan aku akan banyak hal yang luput untuk kusyukuri, akan segala hal melelahkan yang telah kehilangan esensi, akan segala atribut dan karakter yang dibentuk kuat dari pengalaman masa lalu, latar belakang, dari mana aku berasal. Ada beberapa hal dalam kehidupan yang tidak bisa aku pilih—aku mau terlahir sebagai perempuan atau laki-laki, anak Indonesia  atau Prancis,suku Sunda atau Tionghoa…Dan semua orang pun!

 Sebelumnya, karena ketidakdewasaan dan jiwa mudaku yang meledak-ledak dipicu egoisme, aku kerap tidak bisa memahami maksud orang tuaku—termasuk Nenek, Kakek, tante-tante, paman-paman. Perhatian mereka kuartikan sebagai upaya mencampuri urusan, arahan mereka kupandang sebagai pengekangan. Dan mereka tampak sebagai manusia-manusia tua yang tidak akan pernah bisa memahamiku.

 Tapi, ketika aku berlayar sendirian aku akhirnya menyadari kebenarannya. Aku punya orang tua terhebat di dunia! Kadang memang ironis,aku baru menyadari betapa aku menyayangi keluargaku setelah jauh dengan mereka. Setelah peluang berkomunikasi menjadin terbatas—selama di Jepang, less phone calls, letters and e-mails are better. Aku baru mafhum bahwa aku membutuhkan semua arahan ortu, nenek, kakek, ketika akhirnya dihadapkan pada situasi-situasi yang harus kupecahkan sendiri. Aku sepenuhnya bertanggung jawab pada diriku. Segala keputusan yang aku ambil akan berpegaruh terhadap masa depanku. Aku membawa nama negara dan agama. Tidak main-main! Aku semacam diplomat ’junior’.🙂

 Hal kedua, mengenai tanah airku. Di Indonesia, berita yang terutama muncul adalah berita-berita menyesakkan. Lihatlah koran-koran, maka yang terutama muncul sebagai headline adalah keprihatinan. Ya, aku tak memungkiri bahwa itu memang kenyataan yang benar-benar terjadi dan karena itu harus kita terima, tapi, untuk maju ke masa depan yang lebih baik, kita harus punya sedikit kebijaksanaan yang lebih untuk mengakui bahwa bangsa ini bagaimanapun masih punya kebaikan. Kebaikan yang harus dioptimalkan sehingga menjadi peluang! Dan semuanya baru aku sadari ketika aku terpisah jauh dari tanahku.

 Berada di negara maju dengan segala pernak-pernik kekayaannya, modernitas, kemudahan fasilitas, dan keindahan alamnya memang membuatku begitu bersyukur karena pernah merasainya. Sudah kukatakan aku jatuh cinta pada Jepang bahkan sebelum aku benar-benar menginjakkan kaki di sana. Tapi terlepas dari itu ada romantisme lain yang tumbuh dengan mekar…Aku juga jadi jauh lebih mencintai tanahku. Indonesia! Segala kehangatan, religiusitas, kejujuran, kedekatan dengan Tuhan swt, pemahaman lebih akan hakikat hidup, kesabaran, pengorbanan, semangat muda, keberanian! Semua, terutama mengenai generasi muda Indonesia yang insya Allah takkan mengecewakan. Semuanya kurindukan!

God, batinku. Aku berkesempatan untuk bersekolah di dua sekolah terbaik. SMA Negeri 3 Bandung, dan SMA putri Seishin. Dua karakter berbeda, keunggulan masing-masing. Seishin yang cantik, berbudi pekerti, anggun, sekolah termahal di prefektur Niigata. SMA 3? SMA 3 adalah harapan! Kalau ada orang yang bertanya manakah fase hidup yang benar-benar kubanggakan karena sangat menempa karakterku, maka aku secara tegas akan menyatakan bahwa itu adalah keberhasilanku untuk masuk SMA 3. Dan bahkan kebanggaanku berlipat-lipat setelah aku cuti bersekolah. Aku semakin menyadari betapa pandai anak-anak Indonesia! Secara potensi kita tidak kalah sama sekali. Kita punya bakat-bakat emas. Jangan tertipu oleh orang-orang yang menyatakan negara kita tidak punya harapan dan terbelakang. Kita tidak kalah! Aku percaya sepenuhnya dengan kesungguh-sungguhan kita bisa melakukan perubahan di masa depan. Aku belajar bersama-sama pelajar Jepang, Jerman, Thailand, Amerika, Australia, New Zealand, Bolivia, Brazil, dan aku membatin dengan takjub, ”Teman-temanku di SMA 3 tidak kalah pintarnya dengan mereka—bahkan lebih!!!” Dan aku bangga menjadi bagian dari mereka.

 Pada akhirnya fragmen-fragmen beranjak utuh. Akan kulengkapi lagi juga saat ini, sejak 6 Februari 2005 lalu, dimana akhirnya aku meninggalkan second home country-ku. Pada hari itu aku menekan ulang tombol start di kehidupan Indonesiaku. Aku telah meninjau dan kini aku kembali.

 Tadaima!!!!!🙂

  

Akatsukaeki wo omoidasu

*sore-sore menjelang petang, bersepeda di antara sawah-sawah

Di belakang terminal Akatsuka. Menyapa dengan bersemangat

Petani-petani tua yang gigih,

Dijawab kehangatan dan senyuman menenangkan,

Aku bersepeda menuju matahari yang

Tenggelam meninggalkanku.

Udara segar, pikiranku penuh.

Mengembara ke bumi jawa.*